Raphinha sedang menikmati salah satu periode terbaik dalam kariernya bersama Barcelona. Pemain asal Brasil itu berubah menjadi mesin gol setelah mendapatkan peran baru sebagai penyerang tengah, menggantikan posisi yang ditinggalkan Robert Lewandowski.

Gol demi gol terus mengalir dari kaki Raphinha. Namun, ketika performanya sedang berada di level tertinggi, muncul kekhawatiran lain yang menghantui Barcelona.

Raphinha harus meninggalkan klub untuk bergabung dengan Timnas Brasil pada jeda internasional September 2026. Masalahnya, dua pemanggilan terakhir ke Tim Samba berakhir dengan cedera bagi sang pemain.

Situasi tersebut membuat Barcelona waspada. Apalagi, kali ini Raphinha harus menjalani perjalanan internasional yang sangat panjang untuk memperkuat Brasil dalam tiga pertandingan persahabatan.

Sejumlah media Spanyol bahkan mulai menyebut situasi tersebut sebagai ancaman "kutukan" tim nasional bagi Raphinha.

Raphinha Menjelma Jadi Mesin Gol

Perubahan posisi yang dilakukan pelatih Barcelona, Hansi Flick, memberikan dampak besar terhadap performa Raphinha.

Musim ini, Flick menempatkan Raphinha lebih ke tengah sebagai penyerang. Keputusan tersebut diambil setelah Barcelona kehilangan Lewandowski dan Ferran Torres dari lini depan.

Hasilnya sangat mencolok.

Raphinha langsung menunjukkan ketajaman luar biasa sejak awal musim. Ia mencetak 14 gol dalam delapan pertandingan di semua kompetisi dan menjadi salah satu pemain paling produktif di Eropa pada periode awal musim.

Di LaLiga, kontribusinya bahkan lebih impresif.

Raphinha mencetak 12 gol dalam tujuh pertandingan liga. Catatan tersebut menempatkannya di puncak daftar pencetak gol sementara. Ia kemudian menambah dua gol lainnya di Liga Champions.

Salah satu penampilan terbaiknya terjadi ketika Barcelona menghadapi Sevilla.

Raphinha mencetak hat-trick dalam kemenangan 3-1 Barcelona atas Sevilla pada 19 September 2026. Tiga gol tersebut semakin memperkuat statusnya sebagai salah satu pemain paling berbahaya di lini depan Barcelona.

Menariknya, hat-trick tersebut tercipta dengan cara yang lengkap. Raphinha mencetak satu gol menggunakan kaki kanan, satu melalui sundulan, dan satu lagi dengan kaki kiri.

Performa tersebut menunjukkan bahwa perubahan posisi menjadi penyerang tengah tidak membuat Raphinha kehilangan karakter sebagai pemain sayap. Justru, ia mendapatkan ruang yang lebih besar untuk memanfaatkan kecepatan, pergerakan tanpa bola, serta kemampuan penyelesaiannya.

Flick Menemukan Posisi Baru Raphinha

Flick melihat karakter Raphinha cocok untuk bermain lebih dekat dengan gawang.

Dengan berada di posisi penyerang tengah, Raphinha tidak harus selalu memulai serangan dari sisi lapangan. Ia dapat bergerak di antara bek tengah dan bek sayap lawan, mencari ruang untuk menerima umpan terakhir.

Skema tersebut juga membuat kemampuan finishing Raphinha semakin sering terlihat.

Pelatih Barcelona itu sebelumnya menilai Raphinha mampu memberikan banyak hal ketika bermain sebagai penyerang. Kecepatan, kualitas teknis, agresivitas, dan kemampuan membaca ruang menjadi kombinasi yang membuatnya efektif di posisi tersebut.

Perubahan itu terjadi pada saat yang tepat.

Barcelona sedang menjalani awal musim yang sangat positif dan membutuhkan sumber gol baru setelah perubahan komposisi lini depan.

Raphinha kemudian menjawab kepercayaan tersebut dengan produktivitas yang bahkan melampaui ekspektasi.

Namun, momentum positif itu kini harus berhadapan dengan agenda Timnas Brasil.

Perjalanan Panjang Bersama Brasil

Raphinha masuk dalam daftar pemain yang dipanggil Carlo Ancelotti untuk memperkuat Brasil.

Tim Samba dijadwalkan menghadapi Australia pada 25 dan 29 September, sebelum menghadapi India pada 3 Oktober.

Rangkaian pertandingan tersebut membuat Raphinha harus melakukan perjalanan udara yang sangat panjang dari Eropa menuju Australia dan India.

Media Spanyol memperkirakan total perjalanan yang harus ditempuh Raphinha mencapai sekitar 34.000 kilometer. Jarak tersebut disebut setara dengan hampir satu kali mengelilingi bumi.

Bagi Barcelona, persoalannya bukan semata-mata jarak perjalanan.

Klub Catalan tersebut juga mengkhawatirkan beban fisik yang harus ditanggung Raphinha. Sang pemain baru saja menjalani rangkaian pertandingan dengan intensitas tinggi dan sedang berada dalam kondisi performa terbaik.

Setelah jeda internasional, Barcelona akan kembali memasuki periode pertandingan yang padat.

Karena itu, kondisi Raphinha ketika kembali ke Catalonia menjadi perhatian penting.

Dua Pemanggilan Terakhir Berakhir dengan Cedera

Kekhawatiran Barcelona memiliki dasar dari pengalaman sebelumnya.

Dalam dua pemanggilan terakhir ke Timnas Brasil, Raphinha sama-sama mengalami masalah cedera.

Cedera pertama terjadi ketika Brasil menjalani pertandingan persahabatan melawan Prancis pada Maret 2026. Raphinha mengalami cedera otot paha dan harus menepi selama sekitar lima pekan.

Cedera tersebut membuat Barcelona kehilangan salah satu pemain penting pada periode krusial musim lalu.

Raphinha kembali mengalami masalah fisik ketika membela Brasil di Piala Dunia 2026. Ia ditarik keluar pada babak kedua pertandingan melawan Haiti setelah merasakan masalah pada bagian belakang paha kanannya.

Akibat cedera tersebut, Raphinha tidak kembali bermain untuk Brasil sebelum perjalanan mereka di turnamen tersebut berakhir.

Riwayat itulah yang membuat Barcelona tidak ingin mengambil risiko.

AS bahkan menyebut pemanggilan Raphinha kali ini menjadi sumber kekhawatiran bagi Barcelona karena sang pemain tengah berada dalam bentuk permainan terbaik sepanjang kariernya.

Ancaman "Virus FIFA"

Dalam sepak bola, istilah "Virus FIFA" kerap digunakan untuk menggambarkan situasi ketika pemain mengalami cedera saat menjalani tugas internasional.

Barcelona kini menghadapi kekhawatiran serupa.

Bukan berarti Raphinha pasti akan mengalami cedera ketika memperkuat Brasil. Namun, riwayat dua pemanggilan sebelumnya membuat kekhawatiran tersebut memiliki dasar.

Risiko lain berasal dari padatnya perjalanan.

Raphinha tidak hanya akan bermain di satu negara. Ia harus mengikuti agenda Brasil di Australia sebelum kemudian melakukan perjalanan menuju India.

Setelah menjalani pertandingan internasional, ia harus kembali ke Eropa untuk mempersiapkan pertandingan berikutnya bersama Barcelona.

Dari sisi fisik, rangkaian perjalanan tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri.

Apalagi, Raphinha bukan sekadar pemain pelengkap di Barcelona. Saat ini ia menjadi salah satu pemain utama dalam sistem Flick.

Brasil Juga Membutuhkan Raphinha

Di sisi lain, Brasil mempunyai alasan kuat untuk mengandalkan Raphinha.

Tim Samba sedang memasuki fase baru setelah Carlo Ancelotti mengambil alih tim. Pelatih asal Italia itu membutuhkan pemain berpengalaman yang dapat menjadi bagian penting dari proyek barunya.

Raphinha termasuk salah satu pemain yang memiliki pengalaman internasional cukup besar.

Pada 2026, ia telah tampil dalam sejumlah pertandingan bersama Brasil. Namun, produktivitasnya di level tim nasional belum menyamai performanya bersama Barcelona. Data Opta mencatat Raphinha belum mencetak gol untuk Brasil pada 2026 hingga laga terakhirnya pada Juni, meski ia mencatat satu assist.

Situasi tersebut membuat agenda internasional kali ini juga menjadi kesempatan bagi Raphinha untuk kembali menunjukkan ketajamannya bersama Tim Samba.

Brasil tentu berharap performa luar biasanya di Barcelona dapat terbawa ke tim nasional.

Namun, Barcelona memiliki kepentingan yang berbeda.

Klub Catalan itu tentu menginginkan Raphinha kembali dalam kondisi bugar untuk melanjutkan performanya di level klub.

Barcelona Hanya Bisa Berharap

Untuk saat ini, Barcelona tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu.

Raphinha tetap memiliki kewajiban membela negaranya ketika dipanggil. Brasil pun berhak memainkan sang pemain dalam pertandingan internasional sesuai kebutuhan pelatih.

Yang bisa dilakukan Barcelona adalah memantau kondisi fisik Raphinha dan berharap sang pemain mampu melewati periode tersebut tanpa masalah.

Situasinya cukup ironis.

Ketika Barcelona akhirnya menemukan formula yang membuat Raphinha semakin produktif, agenda tim nasional justru datang dengan membawa sejumlah risiko.

Raphinha sedang berada di puncak performa. Ia mencetak gol dengan kaki kanan, kaki kiri, kepala, dan dari berbagai situasi. Dalam skema baru Flick, pemain Brasil itu bahkan terlihat semakin nyaman berada di posisi penyerang tengah.

Tetapi pengalaman dua pemanggilan sebelumnya membuat Barcelona harus waspada.

Jeda internasional kali ini bukan hanya tentang berapa banyak gol yang bisa dicetak Raphinha untuk Brasil. Bagi Barcelona, pertanyaan terpenting justru lebih sederhana: apakah sang mesin gol akan kembali ke Camp Nou dalam kondisi yang sama seperti ketika meninggalkannya?

Jawabannya baru akan diketahui setelah rangkaian pertandingan Brasil di Australia dan India selesai.

Untuk sementara, Barcelona hanya bisa berharap "kutukan" cedera saat membela Brasil tidak kembali menghampiri Raphinha.