Gonçalo Ramos memang belum menunjukkan produktivitas gol yang diharapkan dari seorang penyerang tengah AC Milan. Namun, ada satu aspek yang membuat pemain asal Portugal tersebut tetap mendapat apresiasi dari pelatih Ruben Amorim: etos kerja.
Sejak bergabung dengan AC Milan, Ramos belum mampu memenuhi ekspektasi sebagai mesin gol utama. Sampai pertandingan melawan Lecce, ia baru mengoleksi satu gol dalam kompetisi resmi. Gol tersebut dicetak saat Milan menghadapi Venezia pada pekan kedua Serie A 2026-2027.
Setelah itu, Ramos melewati sejumlah pertandingan tanpa kembali mencatatkan namanya di papan skor.
Situasi tersebut tentu menjadi perhatian mengingat Milan mendatangkannya dari Paris Saint-Germain dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai sekitar 70 juta euro ditambah bonus. Penyerang berusia 25 tahun itu diharapkan menjadi solusi untuk persoalan lini depan Rossoneri.
Namun, statistik gol bukan satu-satunya ukuran yang digunakan Amorim untuk menilai kontribusi Ramos.
Di balik catatan satu gol tersebut, sang penyerang justru memperlihatkan kerja keras luar biasa dalam membantu permainan tim. Salah satu buktinya terlihat ketika Milan menghadapi Lecce.
Menempuh 11,6 Kilometer
Dalam pertandingan melawan Lecce, Ramos tercatat menempuh jarak 11,6 kilometer sepanjang pertandingan.
Angka tersebut menjadi gambaran bagaimana sang striker tidak hanya menunggu bola di dalam kotak penalti. Ramos aktif turun menjemput bola, menjadi pemantul serangan, membuka ruang, melakukan tekanan, hingga membantu Milan merebut kembali penguasaan bola.
Jika dianalogikan dengan jarak di Indonesia, angka 11,6 kilometer itu kurang lebih seperti berlari dari Jakarta menuju kawasan Bogor.
Bagi seorang pemain yang berposisi sebagai penyerang tengah, volume pergerakan tersebut menunjukkan besarnya energi yang dikeluarkan Ramos dalam pertandingan.
Bahkan, jarak tempuhnya saat menghadapi Lecce meningkat hampir dua kilometer dibandingkan pertandingan sebelumnya melawan Lazio.
Masalahnya, kontribusi tersebut belum sepenuhnya terlihat dalam statistik yang paling mudah diperhatikan: gol.
Ramos masih tertahan pada satu gol. Ia juga melewati empat pertandingan berturut-turut tanpa mencetak gol maupun mencatatkan tembakan tepat sasaran.
Catatan tersebut membuat tekanan terhadap sang pemain tetap ada, terlebih karena Milan membayar mahal untuk mendapatkannya.
Gol Belum Banyak, tetapi Perannya Berbeda
Meski demikian, permainan Ramos saat menghadapi Lecce memberikan gambaran berbeda.
Penyerang Portugal itu terlibat dalam sejumlah momen penting yang membantu Milan meraih kemenangan. Pergerakannya membuat lini belakang Lecce harus terus memperhatikan posisinya.
Pada proses gol pertama Milan, Ramos menarik perhatian pemain bertahan lawan di area sepertiga akhir. Pergerakan tersebut membuka ruang bagi Christian Pulisic untuk menerima umpan dari Strahinja Pavlovic dan mencetak gol.
Ramos memang tidak tercatat sebagai pencetak gol maupun pemberi assist dalam situasi tersebut. Namun, pergerakannya ikut menciptakan ruang yang kemudian dimanfaatkan rekan setimnya.
Pada gol kedua, Ramos kembali memainkan peran dalam rangkaian serangan Milan. Ia terlibat dalam kombinasi satu-dua dan kemudian memberikan umpan tanpa melihat kepada rekan setimnya.
Sementara pada gol berikutnya, Ramos berperan dalam proses perebutan bola di lini tengah sebelum Milan melancarkan serangan cepat.
Dengan kata lain, Ramos tetap memberikan pengaruh terhadap permainan meski namanya tidak selalu muncul di kolom pencetak gol.
Bagi Amorim, kontribusi semacam itu tidak kalah penting.
Amorim Tetap Percaya pada Ramos
Ruben Amorim memahami bahwa seorang striker pada akhirnya akan dinilai dari jumlah gol yang dicetak.
Namun, pelatih asal Portugal tersebut tidak ingin Ramos hanya menjadi pemain yang menunggu bola di kotak penalti.
Amorim justru menilai kerja keras Ramos sebagai salah satu bagian penting dari sistem yang sedang dibangun Milan.
"Ramos bekerja keras, gol-golnya akan datang. Dia sudah mencetak gol, sudah memberikan satu assist dan yang terpenting dia sangat bekerja keras untuk tim," kata Amorim dalam komentarnya yang dikutip Goal.
Amorim juga menilai Ramos tampil lebih baik ketika Milan mampu mendekatkan jarak antarpemain dan memberinya lebih banyak dukungan dalam membangun serangan.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa masalah Ramos tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan mencetak gol.
Sistem permainan, posisi rekan setim, serta cara Milan membangun serangan turut menentukan seberapa sering Ramos memperoleh kesempatan di area berbahaya.
Beban Harga 74 Juta Euro
Meski begitu, tekanan tetap tidak dapat sepenuhnya dihindari.
Ramos datang ke San Siro dengan ekspektasi besar. Nilai transfer yang dilaporkan mencapai sekitar 70 juta euro plus bonus membuat setiap penampilannya mendapat perhatian lebih.
Untuk pemain dengan harga tersebut, publik tentu berharap gol datang secara rutin.
Ramos sebenarnya sudah menunjukkan kemampuan mencetak gol sejak awal musim. Ia membuka rekening golnya ketika Milan mengalahkan Venezia 2-0 pada pekan kedua.
Gol tersebut tercipta pada menit ke-69. Ramos menerima umpan terobosan Alexis Saelemaekers sebelum menyelesaikan peluang dengan tembakan menyilang.
Itu menjadi gol kompetitif pertamanya untuk Milan.
Akan tetapi, setelah pertandingan tersebut, ia belum kembali mencetak gol.
Di sisi lain, Ramos tidak menunjukkan tanda-tanda menghindari tanggung jawab. Ia tetap aktif bergerak dan terlibat dalam permainan Milan.
Karakter seperti itu juga bukan sesuatu yang asing bagi Ramos.
Ketika masih membela Paris Saint-Germain, ia dikenal sebagai penyerang yang mampu bermain di berbagai situasi, termasuk melakukan pressing dan membuka ruang bagi pemain lain.
Kini, tugas tersebut kembali dijalankannya di bawah arahan Amorim.
Milan Membutuhkan Lebih dari Sekadar Gol
Milan sendiri sedang berusaha membangun identitas baru bersama Amorim.
Pelatih asal Portugal tersebut ingin timnya bermain dengan intensitas tinggi, melakukan tekanan secara kolektif, serta memanfaatkan pergerakan pemain untuk menciptakan ruang.
Dalam sistem seperti itu, penyerang tidak hanya dituntut menyelesaikan peluang.
Striker juga harus menjadi bagian dari mekanisme pressing, menghubungkan lini tengah dan depan, serta menarik bek lawan keluar dari posisinya.
Ramos terlihat menjalankan tugas tersebut.
Masalahnya, keseimbangan antara kerja keras dan produktivitas tetap harus ditemukan.
Milan tentu tidak mendatangkan Ramos hanya untuk menjadi pemain yang rajin berlari. Pada akhirnya, kontribusi seorang penyerang tetap akan banyak diukur melalui gol dan assist.
Karena itu, catatan satu gol setelah beberapa pertandingan menjadi pekerjaan rumah bagi Ramos.
Ia harus mengubah sebagian energi dan pergerakannya menjadi peluang yang lebih banyak, kemudian mengonversinya menjadi gol.
"Jakarta-Bogor" Baru Awal
Jarak 11,6 kilometer yang ditempuh Ramos ketika menghadapi Lecce menjadi bukti bahwa sang pemain tidak kekurangan usaha.
Ia sudah berlari, melakukan duel, membuka ruang, membantu pressing, dan terlibat dalam proses terciptanya serangan.
Yang belum datang adalah konsistensi dalam mencetak gol.
Bagi Milan, perkembangan Ramos menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan musim ini. Jika ia mampu mempertahankan etos kerja sekaligus meningkatkan efektivitas di depan gawang, kontribusinya berpotensi terlihat lebih lengkap.
Amorim pun masih memberikan kepercayaan kepadanya.
"Gol-gol akan datang," merupakan pesan utama dari sang pelatih ketika membahas penyerangnya.
Kini Ramos hanya perlu membuktikan bahwa keyakinan tersebut bukan tanpa alasan.
Untuk sementara, statistiknya memang baru mencatat satu gol. Namun, dalam satu pertandingan melawan Lecce saja, ia sudah berlari sejauh 11,6 kilometer.
Jika diibaratkan perjalanan darat, angka itu sudah cukup untuk menggambarkan rute Jakarta menuju Bogor.
Tantangan berikutnya bagi Ramos jauh lebih sederhana: setelah rajin berlari untuk AC Milan, ia harus mulai lebih sering berlari menuju papan skor.
