Anthony Gordon ikut membuka perdebatan mengenai identitas permainan Timnas Inggris menjelang pertemuan dengan Spanyol di UEFA Nations League. Winger yang kini memperkuat Barcelona tersebut menilai Inggris tidak perlu memaksakan diri meniru gaya bermain La Furia Roja, khususnya dalam hal penguasaan bola.
Menurut Gordon, Inggris memiliki karakter permainan dan kualitas pemain yang berbeda dari Spanyol. Karena itu, upaya menjadikan permainan Spanyol sebagai cetak biru justru berisiko membuat The Three Lions meninggalkan kekuatan yang sebenarnya mereka miliki.
Komentar tersebut disampaikan Gordon setelah dirinya mendapatkan pengalaman langsung bermain di Spanyol. Kepindahannya ke Barcelona membuat pemain Inggris itu dapat melihat lebih dekat bagaimana pemain-pemain Spanyol mengontrol pertandingan, mengambil keputusan ketika menguasai bola, serta membangun serangan dari lini belakang.
Pengalaman tersebut membuat Gordon memiliki pandangan berbeda mengenai perbedaan kultur sepak bola kedua negara.
Gordon: Inggris Tidak Harus Menjadi Spanyol
Gordon secara terbuka meminta Inggris berhenti menjadikan negara lain sebagai acuan utama untuk menentukan cara bermain.
Ia menilai setiap negara memiliki karakter tersendiri yang terbentuk melalui proses pembinaan dan budaya sepak bola selama bertahun-tahun. Menurutnya, pemain Inggris tidak harus dibuat memiliki karakter yang sama dengan pemain Spanyol hanya karena Spanyol mampu memainkan sepak bola berbasis penguasaan bola secara efektif.
"Kami tidak bisa terus melihat negara lain dan mencoba menjadi seperti mereka. Kami bukan mereka. Kami orang Inggris dan memiliki kekuatan sendiri yang tidak mereka miliki," ujar Gordon, seperti dikutip dari sejumlah media Inggris.
Gordon menilai Inggris justru perlu mengembangkan gaya yang sesuai dengan kualitas pemain yang tersedia.
"Jadi, mungkin kami harus mulai bermain dengan cara yang memang menjadi keahlian kami," lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul menjelang pertandingan Inggris melawan Spanyol. Duel tersebut menjadi perhatian karena mempertemukan dua negara dengan pendekatan sepak bola yang memiliki karakter berbeda.
Spanyol selama bertahun-tahun dikenal melalui permainan penguasaan bola, sirkulasi umpan pendek, serta kemampuan mengontrol tempo pertandingan. Inggris, di sisi lain, memiliki pemain dengan karakter fisik dan kecepatan yang dapat digunakan untuk memainkan sepak bola lebih langsung.
Pengalaman di Barcelona Mengubah Perspektif Gordon
Pandangan Gordon tidak datang tanpa alasan.
Sejak bergabung dengan Barcelona, ia berada di lingkungan sepak bola yang sangat berbeda dari yang dialaminya di Inggris. Gordon dapat melihat secara langsung bagaimana pemain Spanyol mengambil keputusan ketika menerima bola dalam tekanan.
Menurutnya, kemampuan tersebut bukan hanya soal teknik dasar mengoper atau mempertahankan penguasaan bola. Ada aspek pengambilan keputusan yang terbentuk sejak pemain masih berada di level pembinaan.
Gordon bahkan mengaku beberapa kali terkejut melihat keputusan yang dibuat pemain Spanyol ketika menguasai bola.
"Saya bahkan melihat beberapa keputusan yang mereka ambil saat menguasai bola dan berpikir, saya tidak yakin bagaimana mereka bisa melihat itu," kata Gordon.
Menurut Gordon, hal tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan pemain sejak usia muda.
"Ini adalah cara mereka terbentuk. Saya tidak tahu apakah itu sesuatu yang bisa diajarkan," ujarnya.
Gordon menilai pemain Inggris sebenarnya juga memiliki kemampuan untuk menguasai bola. Namun, cara mereka memproses permainan dan mengambil keputusan disebut berbeda dengan pemain Spanyol.
Penguasaan Bola Bukan Kekuatan Utama Inggris
Gordon juga memberikan pandangan mengenai pernyataan Thomas Tuchel yang sebelumnya menyebut penguasaan bola bukan bagian dari "DNA" sepak bola Inggris seperti halnya di Spanyol.
Gordon sejalan dengan pandangan tersebut.
Ia mengatakan pengalaman bermain di Spanyol membuat dirinya memahami perbedaan tersebut secara lebih jelas. Menurutnya, Inggris bukan tidak mampu mempertahankan bola, tetapi mereka tidak memiliki kultur yang sama dalam mengontrol pertandingan melalui penguasaan bola.
"Saya berbicara dari sudut pandang bahwa saya merasa kami sedang mencoba meniru Spanyol. Karena sekarang saya berada di Spanyol, saya tahu kami memiliki pemain yang sama bagusnya, tetapi mereka memiliki kualitas yang berbeda," tutur Gordon.
Pemain Barcelona itu kemudian mempertanyakan alasan Inggris harus membuat pemain mereka bermain seperti pemain Spanyol.
"Kenapa Anda mencoba membuat kami sama seperti pemain Spanyol? Pemain Spanyol tidak memiliki hal-hal yang kami miliki, begitu juga sebaliknya," katanya.
Bagi Gordon, perbedaan tersebut seharusnya tidak dilihat sebagai kekurangan yang harus dihapus. Inggris justru dapat menggunakan karakter mereka sendiri sebagai bagian dari identitas permainan.
Pilihan Inggris: Beradaptasi atau Memaksimalkan Kekuatan Sendiri
Gordon tidak mengatakan Inggris harus berhenti meningkatkan kemampuan penguasaan bola.
Menurutnya, pemain Inggris tetap dapat berkembang dalam aspek tersebut. Namun, ada pilihan lain yang bisa dipertimbangkan jika Inggris ingin memaksimalkan kualitas pemain yang mereka miliki.
Ia menyebut permainan fisik, langsung, dan serangan balik sebagai beberapa kekuatan yang dapat dikembangkan.
"Kami bisa menjadi lebih baik, atau mungkin mengambil arah lain dan benar-benar bermain sesuai kekuatan kami, yaitu bermain secara fisik, memainkan sepak bola langsung, dan melakukan serangan balik," ujar Gordon.
Pandangan itu memberikan gambaran mengenai dilema yang sedang dihadapi Inggris.
Di satu sisi, sepak bola modern menuntut sebuah tim mampu mengontrol pertandingan dan keluar dari tekanan melalui penguasaan bola. Di sisi lain, setiap tim tetap harus menyesuaikan pendekatan dengan karakter pemain yang tersedia.
Gordon melihat tidak ada alasan bagi Inggris untuk memaksakan diri mengikuti formula negara lain.
Pengalaman Piala Dunia Jadi Bahan Evaluasi
Perdebatan tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman Inggris pada Piala Dunia 2026.
The Three Lions berhasil melaju hingga semifinal sebelum kalah 1-2 dari Argentina. Gordon sendiri mencetak gol pembuka Inggris dalam pertandingan tersebut.
Inggris sempat berada dalam posisi unggul, tetapi Argentina mampu membalikkan keadaan pada fase akhir pertandingan.
Hasil tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi, termasuk mengenai kemampuan Inggris mempertahankan kontrol pertandingan setelah unggul.
Gordon mengakui para pemain juga memiliki tanggung jawab atas situasi tersebut. Ia tidak ingin seluruh persoalan dibebankan kepada pelatih.
Menurutnya, pertandingan tersebut dapat menjadi pelajaran bagi Inggris untuk menghadapi turnamen berikutnya.
Pandangan Gordon juga sejalan dengan upaya Tuchel mencari formula permainan yang paling cocok untuk Inggris. Pelatih asal Jerman tersebut sebelumnya menyatakan bahwa penguasaan bola memang penting, tetapi karakter sepak bola Inggris tidak sepenuhnya identik dengan cara Spanyol mengontrol pertandingan.
Duel dengan Spanyol Jadi Ujian
Pertemuan dengan Spanyol akhirnya menjadi kesempatan bagi Inggris untuk menguji gagasan tersebut secara langsung.
Spanyol merupakan salah satu contoh tim yang mampu menjadikan penguasaan bola sebagai bagian penting dari identitas permainan. Inggris harus menghadapi pendekatan tersebut tanpa kehilangan karakter mereka sendiri.
Bagi Gordon, pertandingan tersebut bukan sekadar persoalan siapa yang lebih lama menguasai bola. Yang lebih penting adalah bagaimana Inggris memanfaatkan kualitas pemain yang mereka miliki.
Pengalaman Gordon di Barcelona memberikan perspektif unik. Ia kini merasakan sendiri sepak bola Spanyol sekaligus tetap menjadi bagian dari skuad Inggris.
Karena itu, komentarnya tidak sekadar membandingkan dua gaya permainan dari luar. Gordon melihat perbedaan tersebut dari pengalaman sehari-hari bersama pemain-pemain Spanyol.
Pada akhirnya, pernyataan Gordon menempatkan satu pertanyaan penting di tengah persiapan Inggris: apakah The Three Lions harus berusaha mengadopsi gaya permainan Spanyol, atau membangun identitas berdasarkan karakter pemain mereka sendiri?
Gordon jelas memiliki pandangan bahwa Inggris perlu lebih percaya pada kekuatannya sendiri. Namun, bagaimana gagasan tersebut diterapkan di lapangan akan menjadi persoalan tersendiri ketika Inggris menghadapi Spanyol di UEFA Nations League.
